SANTRI, IDENTITAS ABADI

Lppai.News; Santri, satu kata yang sangat populer dan hampir seluruh elemen masyarakat mengenalnya. Ketika menyebut santri, maka yang terlintas dalam fikiran adalah pesantren, Kiai, belajar mengaji, kitab kuning, sorogan, ro’an, dan belajar mandiri. Pesantren sebagai wadah sekaligus lembaga pendidikan satu-satunya yang mampu menampung ribuan santri mulai dari anak-anak hingga dewasa, memberi bukti nyata eksistensinya terhadap dunia pendidikan. Hanya pesantren saja yang mau menerima santri dengan tidak melihat nilai hasil belajar pada pendidikan formal maupun nonformal, karena pada hakikatnya pesantren adalah tempat untuk belajar ilmu agama, dan agama tidak pernah membatasi usia untuk belajar, juga tidak memberikan syarat yang menyulitkan seseorang untuk bisa belajar ilmu tersebut.

Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan pesantren telah mengakar kuat dan memberi pondasi terkokoh bagi dunia pendidikan, juga kemajuan negara. Sejarah menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia diperjuangkan oleh sebagian besar santri dengan pemimpin para Ulama’ dan Kiai, maka secara tidak langsung pesantren dengan dunianya telah memiliki kemampuan untuk memajukan negeri ini.

A. Perjuangan Santri Di Pesantren

Ibarat mesin penanak nasi yang merubah beras menjadi nasi siap makan, pengolahannya melalui proses dengan waktu yang tidak singkat. Begitupula dengan pesantren yang menjadi tempat mengolah santri dari awam hingga berilmu tinggi, siap mengabdi kepada masyarakat. Proses yang dilalui santri tidaklah mudah, orang yang tidak sabar dan tidak memiliki kemauan kuat tidak mungkin betah hidup di pesantren.

Pesantren memiliki sistem pendidikan 24 jam sehari, mulai dari pendidikan agama, pendidikan karakter, pendidikan sosial dan pendidikan kedisiplinan setiap hari dilakukan tanpa henti. Selain itu peraturan-peraturan pesantren yang tidak boleh dilanggar, jam kegiatan yang ketat, semua serba mengantri, harus teliti terhadap barang-barang pribadi atau yang menjadi tanggungjawabnya, taqror (belajar bersama), ro’an (piket pesantren, asrama, kamar), semuanya harus dijalani dengan sabar dan ikhlas. Belum lagi jika sudah menjadi santri senior dan pengurus, bertanggung jawab terhadap kondisi santri junior, membersihkan jika ada santri ngompol, membantu memecahkan masalah, merawat santri yang sakit dan menjadi contoh yang baik untuk mereka.

Situasi di pesantren sengaja dibentuk sedemikian rupa dengan tujuan menjadikan santri yang berkualitas secara keilmuan dan akidah, menyiapkan pemimpin berpotensi dan berpondasi islami yang siap terjun di masyarakat dari wilayah kota hingga ke pelosok desa. Besarnya cita-cita pesantren mengharuskan santri mengenyam seluruh  pendidikan yang ada di dalamnya, dengan demikian pada hakikatnya santri yang sedang menempuh pendidikan di pesantren adalah mereka yang sedang berjuang melatih diri, mental dan fisiknya agar siap menghadapi tantangan ketika suatu saat mereka mengamalkan ilmunya dan mengabdi untuk masyarakat.

B. Karakter Khas Santri

Telah diketahui bahwa pesantren memiliki pendidikan 24 jam yang salah satunya meliputi pendidikan karakter. Karakter santri harus dibentuk dengan pembiasaan dan latihan selama di pesantren. Pesantren tidak hanya mengajarkan pendidikan itu, tapi juga mencontohkan dan mengamalkannya sebagai perilaku keseharian santri. Santri memiliki karakter khas yang hanya dimiliki oleh mereka yang belajar ilmu agama di pesantren.

  1. Berbudaya pesantren

Tidak dapat dipungkiri bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan terbesar yang mampu mendidik ribuan santri dengan cara yang efektif dan efisien. Pesantren memiliki budaya unik yang hanya bisa ditemukan di pesantren saja:

  1. Budaya mengantri

Tidak ada satu kegiatanpun yang dilakukan tanpa harus terlebih dahulu mengantri, karena banyaknya jumlah santri mengharuskan semua hal dilakukan secara bergantian, maka mengantri ini dapat melatih sikap sabar dan ikhlas.

  • Gotong royong

Tidak ada santri yang hidup individualis, mereka hidup bersama, tidur bersama, makan bersama, mencuci baju bersama, jama’ah halat bersama, mengaji bersama, semua kegiatan dilakukan secara bersama-sama dengan santri lain yang bisa jadi memiliki ras, suku, adat istiadat, karakter, latar belakang pendidikan dan latar belakang keluarga yang berbeda. Kebersamaan santri dalam kehidupannya di pesantren memaksa mereka untuk hidup bergotong royong, saling membantu, melengkapi, bahu membahu menciptakan kerukunan dalam kebersamaan.

  • Saling mengasihi

Pesantren dipenuhi dengan beribu-ribu santri yang memiliki jenjang pendidikan berbeda, ada santri junior, senior, pengurus, dan ustadz, ustadzah. Realitanya, dalam tatanan organisasi dan miniatur kehidupan di pesantren, santri yang lebih tua harus memberi uswah hasanah kepada yang lebih muda, santri muda menghormati kepada yang lebih tua, dan semuanya saling mengasihi.

  • Sopan, santun, beradab

Ciri khas santri yang paling mencolok dan bisa dilihat secara langsung adalah sopan santun dan adab mereka. Sudah tidak diragukan lagi bahwa ketika masuk dalam dunia pesantren, sopan santun telah diajarkan, ditanamkan, dibiasakan dan wajib dijalankan oleh setiap santri. Selain itu adab mereka juga di bentuk sesuai dengan adab yang diajarkan oleh agama Islam, baik adab kepada sesama manusia maupun ciptaan Allah yang lain.

2. Tidak meninggalkan shalat

Perintah shalat merupakan perintah yang secara langsung diberikan oleh Allah kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tanpa perantara. Santri yang belajar ilmu agama di pesantren pasti memiliki pondasi kuat terhadap perintah ini, semua pesantren baik salafi, tahfidz maupun modern semuanya mengajarkan dan membiasakan shalat jama’ah minimal 5 waktu yang wajib.

3. Tawadhu’

Santri yang sesungguhnya memiliki sifat tawadhu’, mereka mendalami dan menyelami berbagi ilmu agama dari para pendahulunya (Guru, Kiai, Ulama’). Meskipun seorang santri berilmu tinggi, ia akan tetap tawadhu’ karena dia sadar bahwa ilmu yang diperolehnya saat ini tidak ada apa-apanya dibanding ilmu Allah yang Maha Besar dan Maha Luas, ilmu yang sedikit itu tidak layak disombongkan.

4. Patuh kepada orang tua

Dalam jiwa santri telah ditanamkan “ridho Allah tergantung ridho orang tua”, dari itulah seorang santri meskipun terkadang jengkel atau tidak sependapat dengan orang tua, mereka akan tetap hormat dan patuh kepada mereka.

5. Ta’dzim kepada guru

Setiap santri memiliki guru sebagai seseorang yang memberikan, mengarahkan dan membiarkan muridnya untuk menyelami samudera keilmuan dengan batas-batas syari’at agama. Dari guru lah santri mendapat ilmu meski hanya satu huruf, disini seorang santri memiliki kesadaran bahwa yang menjadi harapan adalah memiliki ilmu yang bermanfaat, dan kemanfaatan ilmu itu bisa tercapai ketika santri ta’dzim kepada gurunya. Meski seorang santri memiliki banyak ilmu melebihi ilmu gurunya, jika mereka tidak ta’dzim kepada guru, maka ilmu itu akan menutup keberkahan hidup atau paling tidak ilmu yang didapat akan sia-sia.

6. Berakhlak Al-Qur’an

Setiap hari santri mengaji ilmu agama, agama mengatur tata cara bersosial baik secara vertikal (dengan khaliq) maupun secara horizontal (dengan makhluk). Selain itu santri dibiasakan setiap jam, setiap hari dan setiap waktu untuk menjalankan kehidupan dengan akhlak yang sesuai dengan Al-Qur’an, yaitu akhlakul karimah, sehingga mereka terbiasa menjaga lisan, menjaga hati, menjaga setiap perilakunya agar sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an.

C. Santri Sebagai Indentitas

Ditengah arus modernisasi dunia pendidikan, pesantren yang masih mempertahankan metode pembelajaran zaman dulu (sorogan, wetonan, bandongan) tidak membuat kiprahnya surut untuk mengepakkan sayap selebar-lebarnya dalam memajukan pendidikan Indonesia. Modernisasi pendidikan yang terjadi saat ini dengan dirubahnya kurikulum, model dan metode pembelajaran, alat-alat belajar, penyusunan, penyediaan dan pembaruan modul serta buku-buku paket untuk belajar siswa menjadi bukti nyata usaha pemerintah untuk kemajuan dunia pendidikan. Namun pesantren tetap khidmat pada kitab-kitab kuning dan metode pembelajaran yang dari dulu hingga sekarang tidak berubah.

Alumni pesantren saat ini telah menjamur di berbagai pelosok nusantara, dari kemerdekaan Indonesia yang dipelopori oleh Kiai, Ulama dan santri hingga saat ini tokoh dan pemimpin Indonesia sebagian besar adalah alumni pesantren. Dengan demikian, sumbangsih pesantren terhadap negara sangatlah besar, bukan hanya dalam bidang pendidikan, tapi pada semua bidang dan lini kehidupan.

Alumni pesantren yang berkiprah di penjuru nusantara tetap disebut sebagai santri, mereka memikul tanggung jawab besar atas nama pesantren, atas ilmu yang mereka peroleh di pesantren hingga bisa menjadikan para alumninya menjadi pemimpin yang siap memimpin dimanapun dan kapanpun tentunya sesuai dengan ajaran agama yang diperoleh saat menjadi santri. Disinilah identitas santri yang sesungguhnya, bahwa santri akan selalu menjadi santri meskipun ia tidak lagi tinggal di pesantren, ia tetap santri dari guru-gurunya, Kiai dan pesantren nya, identitas itu akan selalu menempel pada diri seorang santri meski suatu saat ia sudah meninggal. (By.Zuli)

Parameter Pendidikan Agama, Naik? atau Turun?

Pendidikan agama wajib dilakukan oleh setiap manusia, karena tidak ada satu orangpun yang tidak beragama. Pendidikan agama pertama kali dikenalkan oleh orang tua kepada anaknya, sebagian besar anak akan menerima dan menjalankan agama seperti yang diajarkan orang tuanya hingga mereka dewasa dan menurunkan agama itu kepada anak cucu mereka.

Mengenai pendidikan agama, Mayoritas umat muslim mengenyam pendidikan agama pada pesantren dan lembaga pendidikan agama seperti taman pendidikan Al Qur’an dan madrasah Diniyah. Sebagai kelanjutan dari pendidikan agama oleh orang tua, anak-anak di masukkan pada taman pendidikan Al-Qur’an untuk mempelajari agama lebih dalam, pada tahap ini umumnya anak-anak belajar baca tulis Al Qur’an, hafalan surat-surat pendek, pendidikan akhlak, dan mempelajari kisah nabi-nabi. Setelah menyelesaikan pendidikannya dan lulus ujian akhir mereka akan naik ke jenjang berikutnya yaitu pada madrasah Diniyah. Pada madrasah ini ilmu-ilmu agama yang diajarkan lebih luas dan mendalam, banyak pelajaran lain yang harus di pelajari seperti belajar membaca dan menulis makna pego kitab-kitab kuning pada tahap dasar. Setiap madrasah Diniyah memiliki kurikulum sendiri dan kitab-kitab yang akan dipelajari santri. Setelah santri menyelesaikan pendidikan Diniyah, selanjutnya mereka harus mempelajari pelajaran agama pada tahap selanjutnya, yaitu di pesantren. Pesantren dikenal sebagai satu-satunya lembaga pendidikan agama yang paling tua di Indonesia serta sebagai lembaga pendidikan tingkat atas pada ranah pendidikan agama. Lulusan pesantren dipandang sebagian besar masyarakat sebagai orang-orang yang tinggi ilmu agamanya dan mampu memimpin masyarakat.

Dari setiap elemen pendidikan pasti ada permasalahan yang terjadi, baik dari pendidikan sekolah, umum maupun pendidikan agama. Masalah yang saat ini muncul adalah menurunnya tingkat kesadaran masyarakat akan pendidikan agama pada anak-anak mereka yang diakibatkan oleh beberapa faktor. Realitanya, sedikit sekali perbandingan prosentase anak-anak usia sekolah dasar yang aktif sebagai santri di taman pendidikan Al-Qur’an dan yang aktif di sekolah formal. Hal ini terjadi pula pada lembaga pendidikan Diniyah, bahkan lebih parah, pasalnya santri pada madrasah Diniyah lebih banyak yang terpengaruh oleh kemajuan teknologi dan lingkungan yang kurang baik, tepatnya lebih mementingkan kepentingan pribadi nya, asyik bermain gadget atau bermain bersama teman-temannya, terlebih diberlakukannya sistem full day pada beberapa sekolah mengakibatkan mereka sudah lelah dan mengabaikan pendidikan agama pada lembaga yang ada.

Sekedar pesan bagi orang tua, bahwa anak adalah aset bangsa yang harus di didik dan diarahkan karena kelak mereka lah yang akan menjadi generasi penerus demi terciptanya kesejahteraan, kemakmuran, kedamaian dan kemajuan bangsa, bukan sekedar generasi penerus kehidupan keluarga.

By: Zuli

Selametan, Tradisi Rutinan Mayoritas Muslim Jawa

Assalamu’alaikum Sahabat…

Alhamdulillah, puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT yang telah memberi kita ketetapan iman dan islam, serta kesehatan untuk menjalankan ibadah dan aktivitas sehari-hari. Semoga atas limpahan nikmat yang diberikan kepada kita semua akan menambah keimanan dan kecintaan kita pada Nya, amin…

Sahabat sekalian, pada jum’at kali ini kita akan membahas tema “Selametan, Tradisi Rutinan Mayoritas Muslim Jawa”. Tema ini menarik disampaikan karena, seperti yang telah kita ketahui bahwa mayoritas penduduk muslim Indonesia terdapat di Jawa, begitupula penyebaran ajaran Islam oleh Walisongo dengan cara-cara yang khas mengakibatkan di anutnya tradisi itu turun temurun hingga saat ini. Tradisi hindu-budha (agama yang di anut masyarakat sebelum Islam datang) yang dikemas dengan nilai-nilai dan ajaran Islam telah mengakar kuat dalam tradisi muslim di wilayah Jawa, karena mereka meyakini bahwa dijalankannya tradisi tersebut akan memberi kebahagiaan dan keberkahan untuk hidup mereka, keluarga, serta anak cucunya.

Masyarakat muslim khususnya di daerah Jawa memiliki beberapa tradisi yang cukup unik dan rutin mereka lakukan, sebut saja selametan. Selametan berasal dari kata selamet atau slamet atau selamat, maksudnya adalah keselamatan hidup, di jauhkan dari bala’ dan musibah. Selametan ini hampir sama seperti sedekah, yaitu membagikan makanan kepada sanak famili dan tetangga sebagai wujud rasa syukur kepada Allah dan meminta keselamatan, keberkahan dan kebahagiaan hidup untuk keluarga serta anak cucunya.

 Tradisi selametan ini dilakukan pada beberapa momen seperti selametan orang meninggal (3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari), selametan walimah (walimah khitan, pernikahan, aqiqah, 7 bulanan orang hamil/tingkepan), selametan saat akan menempati rumah baru, selametan weton dan selametan malam jum’at (kirim do’a kepada anggota keluarga yang sudah meninggal).

Beragamnya selametan di atas memiliki tanda yang dapat di lihat dari “berkat” yang di bagikan kepada setiap orang yang datang, berkat disini adalah bingkisan berupa makanan pokok bisa makanan matang atau bahan pokok mentah. Misal pada acara selametan orang meninggal dan kirim do’a pasti di dalam berkatnya ada jajan apem (jajanan pasar yang terbuat dari tepung beras, tepung kanji, ragi, santan, gula dan garam yang dibuat adonan, di cetak dan di kukus). Pada acara selametan  walimah 7 bulanan orang hamil atau yang akrab disebut tingkepan, pasti dalam berkatnya terdapat rujak, polo pendem/umbi-umbian, dawet, dan procot (terbuat dari ketan yang di kukus bersama santan). Pada walimah Aqiqah, berkatnya berupa makanan matang dengan masakan daging kambing. Selanjutnya pada selametan weton biasanya disajikan bubur, baik bubur merah atau putih. Sajian atau jajanan yang menjadi tanda selametan tersebut bisa berbeda pada setiap daerah, tetapi pada umumnya di Jawa timur seperti yang telah disebutkan di atas. Demikian penjelasan tentang tradisi selametan yang dilakukan mayoritas muslim di Jawa, semoga bermanfaat. Semoga sedikit paparan di atas menambah kualitas keimanan kita dan menjaga tradisi yang sudah ada sebagai bentuk pelestarian budaya.

Wassalamu’alaikum…

By: Zuli

Kupatan : Tradisi Masyarakat Islam Jawa

Assalamu’alaikum Sahabat…

Alhamdulillah, puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT yang telah memberi kita kesehatan untuk menjalankan ibadah puasa dan kesempatan untuk merayakan kemenangan di hari yang fitri ini, semoga Ramadhan yang telah kita lewati dan hari raya yang kita rayakan sekarang menambah keimanan dan kecintaan kita pada Nya, amin…

Sahabat sekalian, pada kesempatan ini akan sedikit kita kupas tentang tema “Kupatan; tradisi masyarakat islam jawa”. Seperti yang telah di syariat kan Islam bahwa umat muslim akan menemui idul Fitri setelah melaksanakan puasa Ramadhan selama 1 bulan penuh. Hari raya idul Fitri dikatakan sebagai hari kemenangan, maksudnya kemenangan disini adalah selesainya umat muslim menjalankan perintah Allah (sabar dalam menjalankan puasa, memperbanyak ibadah, tidak melakukan hal yang dilarang saat berpuasa) dengan penuh keikhlasan.

Sahabat, Hari raya Idul Fitri atau yang oleh masyarakat Islam Jawa lebih umum disebut dengan lebaran memiliki tradisi unik dalam perayaannya. Lebaran berasal dari kata Jawa “lebar” yang artinya selesai, maksudnya selesai melaksanakan puasa Ramadhan dengan segala amalan, kewajiban, kesunnahan dan keutamaan yang ada di dalamnya. Sebagian masyarakat juga menyebutnya “riyaya” yaitu singkatan dari hari raya. Bagi masyarakat Islam utamanya di Jawa perayaan lebaran di awali dengan shalat idul Fitri yang dilanjutkan dengan berkunjung kerumah keluarga, sanak saudara, tetangga dan teman untuk saling ngaturaken sedanten lepat (mengakui semua kesalahan) dengan meminta maaf, bersilaturahmi dan berbagi rezeki. Kunjungan itu umumnya dilakukan oleh mereka yang lebih muda kepada yang lebih tua dengan membawa buah tangan berupa sembako dan jajan dengan maksud menghormati dan berterimakasih atas jasa yg telah diberikan oleh orang yang lebih tua kepada mereka yang lebih muda, serta berbagi uang kepada anak-anak kecil.

Setelah perayaan idul Fitri, masyarakat melakukan kupatan, yaitu hari raya ketupat yang dirayakan setelah berpuasa Syawal 6 hari tepatnya pada hari ke tujuh setelah idul Fitri, sesuai Sunnah Rasulullah bahwa umat muslim di sunnahkan melakukan puasa Syawal selama 6 hari dan oleh masyarakat Islam Jawa dilangsungkan lah kupatan. Kupatan ini merupakan hasil akulturasi budaya Indonesia dengan Islam. Kupatan ini dilakukan di sebagian besar wilayah Indonesia, seperti Jawa, Madura, Sulawesi dan Kalimantan.

Sahabat sekalian, Sesuai namanya, perayaan kupatan bagi yang melaksanakan pada umumnya menyiapkan ketupat di rumah, dihidangkan kepada sanak saudara. Ada juga yang di hidangkan pada acara slametan, seluruh warga berkumpul di suatu tempat seperti masjid, musholla atau lapangan dengan membawa hidangan yang didominasi ketupat. Ketupat terbuat dari daun kelapa (janur) yang di anyam hingga berbentuk ketupat dan di isi dengan beras yang sudah di cuci bersih, di rebus Berjam jam hingga matang. Ketupat ini biasanya dihidangkan bersama dengan opor, rendang dan masakan lain yang berkuah dan bersantan.

Sebagaimana yang telah diketahui oleh masyarakat umum, bahwa kupat berarti “laku papat”, yang dimaksud yaitu lebaran, luberan, leburan, laburan. Lebaran berasal dari kata lebar yang artinya selesai, maksudnya selesai menjalankan puasa Ramadhan dan diperbolehkan makan di siang hari seperti sediakala. Luberan artinya meluber, melimpah ruah, sampai tumpah dari wadahnya, maksudnya melimpah nya keikhlasan dalam memberikan rezeki kepada orang lain (berbagi). Leburan artinya melebur, habis, maksudnya saling memaafkan bisa membuat dosa-dosa kita habis seperti baru terlahir kembali. Laburan berarti putih, suci, maksudnya setelah saling memaafkan, jangan lagi melakukan hal-hal yang membuat hati kita kotor, kita harus menjaga hati agar tetap bersih setelah saling memaafkan.

Itulah ajaran yang dilakukan untuk menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan budaya sehingga agama Islam tersebar luas dengan damai dan santun sehingga pemeluk Islam tidak merasa terusik dan dapat menerima agama Islam sebagai agama mayoritas penduduk Indonesia.

Wassalamu’alaikum…

By: Zuli

Memaknai Kemenangan

Assalamu’alaikum Sahabat…

Alhamdulillah, puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat yang luar biasa berupa kesehatan sehingga kita bisa menjalankan puasa hingga penghujung bulan suci Ramadhan ini, dan semoga di hari yang fitri ini kita di berikan kemenangan untuk kembali kepada kefitrahan dan keistiqomahan dalam beribadah, amin…

Sahabat sekalian, Ramadhan sudah berlalu dan tibahlah kita semua pada hari kemenangan yakni idul fitri. Untuk itu dalam tulisan ini akan sedikit kita ulas bagaimana kita “memaknai kemenangan?”. Idul fitri yang sering diartikan kembali ke fitrah kemanusiaan dan sebagai hari kemenagan. Kemenagan dalam menahan hawa nafsu selama bulan suci Ramadhan, dan akhirnya di hari idul fitri ini kita kembali kepada kegembiraan, kesenagan, menikmati makanan-makanan yang enak, pakaian baru dan indah, serta menghiasi jiwa dengan kasih sayang dan kemesraan antar sesama.

Sahabat, idul fitri menjadi momentum untuk memulai menampakkan diri dalam mewujudkan nilai-nilai keshalehan sosial. Keshalehan sosial dalam kehidupan sehari-hari, sebagimana kaidah ushul fiqih yang menyatakan; “al Muhafadah ‘ala al-qodim al-shalih, wa akhdu bi al-jadid al-ashlah” yang artinya memelihara tradisi lama yang barnilai baik dan mengambil sesuatu yang baru yang bernilai lebih baik. Sehingga, puasa yang kita lakukan di selama bulan suci Ramadhan bernilai sebagai ibadah ritual dan sosial, dan halal bi halal yang kita lakukan di hari raya idul fitri ini menjadi prilaku keshalehan sosial yang menjadi motor penggerak dalam mencapai tujuan masyarakat yang ideal, yakni masyarakat madani.

Sahabat sekalian, selepas hajatan pemilu dalam menentukan pilihan pemimpin bangsa ini berlalu dan seiring berlalunya bulan Ramadhan pula mari kita awali bulan yang fitri ini dengan memaknai kemenangan bersama-sama dengan mewujudkan nilai keshalehan sosial. Keshalehan sosial dapat terwujud dengan jalinan ukhuwah (persaudaraan), yang berarti membangun kebutuhan fisik, akal, dan kalbu. KH Ahmad Shiddiq (1926-1991), tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang mengenalkan tentang Trilogi ukhwah, di antaranya; ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam) ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan dalam ikatan kebangsaan), dan ukhuwah basariyah (persaudaraan sesama umat manusia) dengan semangat kebersamaan di hari yang fitri ini.

Sahabat, Ukhuwah Islamiyah, dalam hal kehidupan manusia merupakan modal untuk melakukan pergaulan sosial sesama umat Islam. Prinsip ukhuwah ini menjadikan hubungan antar sesama umat Islam menjadi harmonis dan mampu menjadi sebuah kekuatan besar untuk bersama-sama membumikan nilai-nilai Islam. Sedangkan, Ukhuwah wathaniyah adalah sebuah komitmen persaudaraan antar seluruh masyarakat yang terdiri dari bermacam-macam agama, suku, bahasa dan budaya. Bangunan ukhuwah ini tidak boleh tidak harus menjadi sebuah prinsip bersama dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai dan saling menghargai satu sama lain. Sementara, ukhuwah basyariyah adalah sebuah prinsip yang dilandasi bahwa sesama manusia adalah bersaudara karena berasal dari ayah dan ibu yang satu, yakni Adam dan Hawa. Hubungan persaudaraan ini merupakan kunci dari semua persaudaraan, terlepas dari status agama, suku bangsa ataupun skat geografis, karena nilai utama dari persaudaraan ini adalah kemanusiaan. Sebagaimana ungkapan Sahabat Ali bin Abi Thalib yang mengatakan bahwa “dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudara dalam kemanusiaan.” Artinya, bahwa kemanusiaan adalah nilai tertinggi dalam posisinya sebagai manusia. Sahabat sekalian, Semoga sedikit paparan ini dapat memberikan pencerahan tentang memaknai kemenagan di hari yang fitri ini, dan semoga ibadah yang kita lakukan menjadikan keshalehan pada kita semua, amin ya rabbal alamin…

Wassalamu’alaikum…

By: Zuli

Keindahan Bersedekah

Assalamualaikum Sahabat…

Alhamdulillah, rasa syukur kita hanturkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat yang luar biasa berupa kesehatan baik jasmani maupun rohani sehingga kita semua masih bisa menjalankan ibadah di bulan suci ramadhan ini dengan keistiqomahan, dan semoga ibadah yang kita lakukan menambah keimanan dan keberkahan pada kehidupan kita semua, amin…

Sahabat, hari berlalu dengan cepat hingga tak terasa sudah hari ke-25 di bulan Ramadhan ini dan dipanghujung bulan ramadhan yang akan berlalu ini, maka dalam tulisan kali ini kami akan menyampaikan sedikit tentang “keindahan sedekah”. Sedekah secara definisi merupakan pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau kepada orang yang berhak menerima, diluar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki si pemberi sedekah. Dibulan suci Ramadhan ini perbanyaklah bersedekah. Bisa dikatakan sedekah adalah salah satu amalan yang utama. Apabila kita banyak bersedekah artinya kita telah mengerjakan perintah Allah swt.  Selain beribadah kepada Allah, sedekah juga dapat mempererat hubungan antara orang yang sedang bersedekah dengan yang menerima sedekah. Ada beberapa keutamaan dalam bersedekah di antaranya; (1) sedekah dapat menghapus dosa; (2) sedekah dapat melipatgandakan pahala; (3) sedekah akan membebaskan kita dari siksa kubur; (4) memberian naungan di hari akhir; (5) adanya pintu khusu bagi mereka yang gemar sedekah; (6) sedekah dapat menjauhkan dari api nereka.

Sabahat sekalian, mari kita perbanyak bersedekah di bulan ramadhan ini karena banyak pahala yang Allah berikan kepada orang yang banyak bersedekah dengan keikhlasan dan niatnya karena Allah, bukan pamer atau ingin dipuji orang. Apabila kita tidak memiliki harta yang lebih untuk bersedekah, maka kita bisa berseekah dengan tenaga kita atau yang paling sederhana adalah dengan senyuman. Diumpamakan seperti pada Q.S. Al-Baqarah (261) yang artinya: “Perumpamaan orang-orang yang mendermakan (shodaqoh) harta bendanya di jalan Allah, seperti (orang yang menanam) sebutir biji yang menumbuhkan tujuh untai dan tiap-tiap untai terdapat seratus biji dan Allah melipat gandakan (balasan) kepada orang yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (anugrah-Nya) lagi Maha Mengetahui“. MasyaAllah luar biasanya Allah memberikan pahala pada orang yang bersedekah, hanya dengan 1 butir benih menjadi 700 biji. Itulah janji Allah Ta’ala. Tiada yang mustahil bagi Allah untuk membalas derma hamba-Nya bahkan hingga 700 kali lipat bagi orang yang bersedekah. Dalam bulan suci Ramadhan ini contohnya, banyak yang Allah janjikan pada orang yang bersedekah di antaranya seperti, orang memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa seperti di bulan ramadhan ini, maka Allah akan memberikan pahala yang berlimpah. Hal tersebut juga dijelaskan dalam hadits yang artinya “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga”. (HR. Tirmidzi). Sahabat sekalian itulah sedikit yang bisa kami sampaikan sebagai sedikit pencerahan dapat membuka hati kita semua untuk gemar bersedekah.  Mumpung bulan suci ramadhan masih tersisah 5 hari lagi, maka perbanyak bersedekah untuk memperluas ladang pahala kita.  

Wassalamualaikum …

By: Diyah

LPPAI Bagi-bagi Takjil

Setelah sukses pada program Gerakan Wakaf 1.000 Al-Qur’an untuk masjid, mushola dan pesantren yang dilaksanakan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Agama Islam (LPPAI) di awal bulan ramadhan, LPPAI melanjutkan rutinitasnya di bulan ramadhan dengan melakukan program bagi-bagi takjil gratis di perempatan lampu merah Jl. Kusuma Bangsa, Lamongan.

Program ini menjadi program rutinitas di bulan ramadhan setiap tahunnya, ucapan terimakasih disampaikan kepada seluruh pimpinan dan temen-temen dosen dan tutor LPPAI yang turut mensuport dana dan ikut mensukseskan program bagi-bagi takjil pada hari ini (28/05/2019).