


Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Agama Islam Unisda Lamongan
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, semoga Allah senantiasa memudahkan segala urusan yang menyertai kita. Aamiin….Shobat taukah kamu siapakah yang dimaksud dengan ibu?……Ibu adalah wanita yang melahirkan seseorang. Hal tersebut terdapat dalam firman Allah SWT yang artinya ” Dan ibu–ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. … Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patuh. Ibu merupakan sosok wanita yang berperan sebagai pelengkap dalam kehidupan rumah tangga antara suami istri, ibu dengan anak, juga antara keluarga dan saudara serta masyarakat. Ibu menjadi cermin baik dan tidaknya sebuah keluarga. Seorang ibu yang baik dan salehah tentu akan mengajarkan hal yang sama kepada anak-anaknya serta mampu menjadi seorang yang menyenangkan dan berbakti kepada suaminya. Seorang ibu selalu dibutuhkan, selalu dirasa sebagai sesuatu yang kurang jika tak terdapat sosoknya.
Ada sebuah kisah pada zaman Rasulullah SAW. Seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali. Dia juga berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.
“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji,” pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.
Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila.. Uwais gila…” kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.
Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.
Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.
Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.
Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya ibunya heran. Uwais menjawab, “Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga.”
Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.
Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka’bah karena Rasullah SAW berpesan “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua.”
“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari kisah Uwais diatas kita dapat mengetahui bahwa memuliakan seorang ibu sejatinya adalah kewajiban bagi setiap manusia. Kasih sayang seorang ibu tak bisa dibandingkan dengan siapapun. Tak ada alasan bagi kita untuk tidak memperhatikan apalagi tidak merawatnya ketika dalam kesusahan. Seharusnya tujuan kita hanyalah bagaimana membahagiakan ibu dan melihatnya bahagia karena menjadi ibu bukanlah pekerjaan mudah, betapa mulianya posisi ibu sehingga mendapat jaminan surga dari Allah SWT.
Suatu saat Nabi Muhammad ditanya:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ (البخاري و مسلم)
Dari Abu Hurairah r.a, Rasululloh SAW bersabda, “Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu” (HR. Bukhari dan Muslim : 5971)
Mari kita bersama memuliakan ibu kita, membahagiakan ibu kita, menyayangi ibu kita tanpa sedikitpun menyakiti hati beliau sehingga kita bisa menggapai jannah-Nya. Wallahu a’lam bisshowab…….
By: Neemah_Khoir
Assalamualaikum sahabat muslim muslimahku…
Kali ini saya akan mengajak sahabat untuk sejenak mereview sedekah yang pernah kita lakukan. Sebagai umat muslim yang diajarkan saling membantu, menolong, bergotong royong, kita tentu pernah melakukan hal tersebut baik menolong dalam bentuk materi, tenaga, rasa (seperti menyenangkan hati orang lain) atau dalam bentuk apapun. Sedekah merupakan ajaran Islam yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan kita teladani bersama.
Ada sebuah kisah, suatu ketika seorang pengemis menghampiri polisi untuk meminta sedekah, polisi tersebut membuka dompet dan memberi uang 10.000 rupiah kepada pengemis, raut wajah sang pengemis menjadi penuh semangat dan bibirnya tersenyum berucap “Alhamdulillah,, terima kasih pak”, polisi membalas senyum pengemis sembari menganggukkan kepala.
Kisah berikutnya, menjelang siang seorang tukang becak memarkir becaknya di halaman masjid dengan baju yang telah rapi, ia memasukkan uang 10.000 rupiah kedalam kotak amal masjid ketika ia akan menuju shaf sesaat sebelum shalat jum’at dimulai. Uang tersebut ia kumpulkan selama 6 hari, sengaja menyisihkan karena sangat ingin bersedekah meski keadaan ekonominya kurang baik, upah menarik becak yang ia dapat hanya cukup untuk makan seadanya bersama anak dan istrinya.
Kisah diatas sama-sama menceritakan tentang bersedekah dan sama-sama dengan nominal 10.000 rupiah, ketika keduanya sama-sama bersedekah dengan ikhlas, pertanyaan nya, sudah pantaskah sedekah mereka? seorang polisi yang kurang lebih mendapatkan gaji 5 juta/bulan bersedekah 10.000 rupiah, dan tukang becak yang kurang lebih berpenghasilan bersih 500 ribu/bulan bersedekah dengan nominal yang sama.
Banyak orang mengatakan “sedekah itu yang penting ikhlas”, tapi menurut saya “sedekah itu harus pantas”, nanti ikhlasnya akan ikut sendiri. Maksudnya jika kita termasuk orang yang berpenghasilan menengah ke atas, kita juga harus bersedekah sepantasnya, contoh kita berpenghasilan 5 juta/bulan, setidaknya sedekah yang kita keluarkan tidak kurang dari 500 ribu, ketika 500 ribu itu telah kita keluarkan, meskipun awalnya belum ikhlas, teruskan saja, lama-lama akan ikhlas sendiri, kan sudah terlanjur dikeluarkan, dan tidak mungkin uang itu akan kita minta lagi.
Ibarat seekor ayam bertelur telur ayam, sedang seekor burung puyuh bertelur telur puyuh. Apakah pantas ayam bertelur seukuran telur puyuh? Dan apakah mau seekor burung puyuh bertelur sebesar telur ayam? Bisa jadi setelah sekali bertelur, burung itu tidak akan mau bertelur lagi. Demikian juga sedekah kita, kita memiliki penghasilan yang lumayan, sedekahlah lebih besar dari mereka yang penghasilannya dibawah kita, itulah yang dinamakan sedekah pantas, memantaskan diri untuk mensyukuri yang telah Allah berikan kepada kita, ketika kita jadi ayam, yang harus kita keluarkan adalah telur ayam. Ketika kita belum bisa ikhlas, teruskan saja sedekah itu, jadikan sedekah sebagai rutinitas setiap kita memperoleh rezeki, seiring berjalannya waktu tidak hanya akan hadir rasa ikhlas, bisa jadi akan ada perasaan tidak tenang saat sedekah belum kita laksanakan.
Maka kita semua harus merubah maindset sedekah, bukan yang penting ikhlas, tapi juga pantas. Yang menjadi salah kaprah di lingkungan kita adalah seseorang berprinsip “sedekah yang penting ikhlas”, memiliki penghasilan besar namun tidak di imbangi dengan sedekah yang pantas maka hasilnya ia akan menjadi orang kikir, naudzubillah…
By: Zuli Dwi
Hai sahabat muslim……. Taukah anda apa keistimewaan dari Surah Yasin yang sering kita baca setiap saat?
Sebelum kita membahas tentang keistimewaan surah Yasin, terlebih dahulu kita ulas apa sih surah Yasin itu? Surah Yasin adalah surah yang ke 36 dalam Al-Quran dan terdiri dari 83 ayat, diturunkan di kota Makkah, sehingga surah Yasin ini disebut surah Makiyah. Yasin bukanlah satu kata, ternyata Yasin terdiri dari Ya dan Sin yang diambil dari ayat permulaan surah. Ya memiliki artinya sendiri begitu juga dengan Sin. Ya merupakan kata nidaa (panggilan) atau huruf untuk memanggil yang bermakna ‘wahai’, sedangkan Sin mempunyai arti insan atau manusia yang memiliki maksud manusia sempurna.
Siapakah yang dimaksud manusia sempurna dalam huruf Yasin tersebut? Sebenarnya yang dimaksud oleh huruf tersebut merupakan Sayyidina Nabi Muhammad SAW. Disebut sebagai manusia sempurna tentu ada alasannya, dan hal ini bisa ditemukan di QS. 36: 5 dengan penjelasan bahwa beliau adalah seorang Nabi yang sudah mendapat pewahyuan Al-Qur’an sehingga jalan kehidupan yang dijalani adalah yang lurus dan benar.
Surah Yasin yang sering kita baca dalam kehidupan sehari-hari baik setelah maghrib atau setelah subuh mampu mengikat dan menggetarkan hati orang-orang mukmin yang mendengarnya, termasuk orang orang berhati jahat yang dipenuhi dengan perasaan iri, dengki dan dendam. Kandungan surat yasin cukup luas, meliputi pokok-pokok keimanan, tanda-tanda kekuasaan Allah ta’ala, peringatan kematian, hari akhir, serta kisah perjuangan para syuhada dan pendakwah.
Keistimewaan surah Yasin adalah sebagai berikut:
Sahabat muslim, mengimbangi dzikir dengan membaca surah Yasin dipagi hari dapat menenangkan batin kita sampai sore hari namun, jika kita membiasakan diri kita membaca surah Yasin di sore hari maka, Allah SWT akan memberikan ketenangan dan kebahagiaan sampai esok hari.
Allah berfirman dalam Surah Ar-Ra’ad ayat 28 yang artinya “Orang-orang yang Allah beri petunjuk adalah orang-orang yang beriman, hati mereka merasa tenang dengan mengingat Allah, bertasbih dan bertahmid kepada Allah, membaca dan mendengar Kitab-Nya, ingatlah bahwa ketenangan hati diwujudkan dengan mengingat Allah, sudah selayaknya ia demikian”
Membaca surah Yasin juga dapat melunturkan dan menyembuhkan penyakit hati termasuk iri, dengki, benc, menggunjing keburukan orang lain, bisik-bisik membicarakan kejelekan orang lain, menyebarkan fitnah dan lain-lain, sehingga hidup seseorang selalu berada pada jalan yang benar .
Allah SWT berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 186 yang artinya “Apabila hamba hambaku bertanya tentang aku maka jawablah mereka dekat denganku. Aku mengabulkan permohonann apabila ia memohon kepadaku. maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintahku) dan hendaknya mereka beriman kepadaku agar mereka selalu hidup dalam jalan kebenaran.”
Setiap manusia pasti melakukan dosa, tetapi Allah SWT akan selalu mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Salah satu amalan supaya Allah mengampuni dosa adalah membaca Yasin, seperti sabda Rasulullah Muhammad SAW yang diriwayatkan dalam hadis riwayat At Thabrani dan Al-Bayhaqi, dari Abu hurairah ra.
“Siapa yang membaca (surat) Yasin pada malam hari dengan mengharap keridaan Allah, maka diampuni dosa-dosanya.” (HR. At Thabrani dan Al-Bayhaqi, dari Abu hurairah ra).
Umat Islam mempunyai tradisi berziarah ke makam kerabatnya yang telah meninggal dengan harapan kegiatan tersebut dapat meringankan siksa kubur bagi mereka yang dikunjungi makamnya.
Sebagaimana penjelasan tafsir berikut ini:
“Barang siapa yang mengunjungi makam seseorang dan membacakan surat Yasin, maka pada hari itu, Allah SWT meringankan siksa kubur mereka dan diberikan kebaikan bagi sejumlah penghuni kubur di pekuburan itu.” (Tafsir Nur ats-tsagalayn 4/373)
Surah yasin dianggap dapat mempermudah seseorang meninggal dengan cepat, ikhlas dan tidak mengalami masalah, jika surah yasin dibacakan untuk orang yang akan meninggal. Sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Al-Quran Al azhim, berikut:
“Membaca surat Yasin di sisinya mayat akan menurunkan banyak rahmat dan berkah dan memudahkan keluarnya ruh.” (Tafsir alqur’an Al-azhim 6/562 daran nassyr wat tauzi )
“Disunnahkan membaca surat Yasin di samping seseorang yang sedang menghadapi kematian.” (Al – Majmu’syaih Al muhadzdzab 5 /76 Dar’alim alkitab)
Manfaat surat Yasin yang lainnya adalah Allah SWT akan menjauhkan orang yang membacanya dari malapetaka, termasuk melindunginya dari berbagai bencana, penyakit, dan bahaya.
Selain itu, orang yang membaca surat Yasin setiap harinya, juga akan dipermudah ajalnya dan meninggal dalam keadaan syahid. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis riwayat At-thobroni, yang berbunyi:
“Barang siapa yang membiasakan membaca Yasin setiap malam, maka tanpa terduga, dia menemui ajalnya, maka matinya dalam keadaan syahid.” (HR. At-thobroni, dari pernyataan Anas bin malik).
Pada dasarnya setiap surah dalam Al-Quran itu baik. Dengan membaca Al-Quran secara rutin, termasuk surat yasin maka kita akan dimuliakan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist:
“Siapa yang membaca Al-Qur’an dan beramal dengan isi kandungannya, dianugerahkan kedua ibu bapaknya mahkota di hari kiamat. Cahayanya (mahkota) lebih baik dari cahaya matahari di rumah-rumah dunia. Kalaulah demikian itu matahari berada di rumahmu (dipenuhi dengan sinarnya), maka apa sangkaan kamu terhadap yang beramal dengan ini (al-Qur’an).” (HR. Abu Daud).
Dalam riwayat At-Tirmidzi dan Ad-Darimi, mereka menjelaskan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa surat yasin adalah jantung Al-quran. Dan siapa yang membaca Al-Quran akan diberikan pahala sama seperti 10 kali membaca Al-Quran. Sahabat muslim yang dirahmati Allah SWT, demikianlah tadi beberapa keistimewaan surah Yasin. Masih malas membaca surah Yasin??? Mari kita berbondong-bondong mengamalkan surah yasin dengan membacanya setiap hari agar selalu menjadi kekuatan dan keselamatan bagi kita dan seluruh umat manusia didunia. Selain itu, surah yasin juga dapat menjadi sebuah pertolongan dikala kita sedang terdesak sesuatu yang berkaitan dengan kejahatann yang kelihatan ataupun tidak kelihatan. Pemahaman dan pengertian tentang manfaat surah yasin hendaknya kita lakukan kepada anak-anak usia dini agar mereka mengetahui dengan benar dan dapat mengamalkannya serta dapat menjadi sebuah kebiasaan baik ketika beranjak dewasa nanti yaitu kebiasaan untuk selalu mengamalkan ayat-ayat dari surah Yasin. Wallahu A’lam Bishawab……………..
By: Neemah_Khoir
Sebagai seorang muslim tentu kita wajib taat kepada perintah Allah sebagai wujud penghambaan kepada sang khaliq, ajaran agama Islam mengatur semua hal yang berkenaan dengan kehidupan, baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dengan sesama makhluk hidup. Dalam hubungannya dengan Allah harus menjadi prioritas karena sebanyak apapun manfaat yang kita peroleh dari hubungan dengan sesama makhluk hidup, tidak sebanding dengan manfaat dan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Saat sesama manusia bisa memberikan harta, benda, pertolongan (jasa) dan kasih sayang, Allah memberikan lebih dari itu semua, beratus-ratus tulang yang menyokong tegaknya tubuh kita adalah pemberian Allah, nafas yang kita hirup dengan gratis selama kita hidup, mesin dalam sistem pencernaan yang dirakit sedemikian rupa hingga bisa kita gunakan selama kita hidup, jantung yang memompa darah ke semua organ tubuh, mata yang bisa melihat dan sehat, telinga yang bisa mendengar secara jelas, bulu mata yang digunakan untuk melindungi mata dari debu, semua itu hanya contoh kecil pemberian Allah dalam diri kita, belum yang ada dalam kehidupan kita, lingkungan, hewan, tumbuhan, tanah, air, udara, tata surya, perputaran siang malam, dan sangat banyak lagi serta tak terhitung jumlahnya, semua diciptakan hanya untuk manusia. Ketika melihat apa yang Allah berikan kepada kita, menjadi bukti bahwa Allah amat sayang kepada ciptaanNya, lalu apa yang bisa kita lakukan untuk Allah?
Untuk membuktikan satu saja bukti sayang Allah kepada kita, kita ambil contoh nafas yang kita hirup secara gratis, jika Allah meminta kita untuk membayar nafas tersebut, berapa nominal yang harus kita keluarkan untuk membayar nafas? Di rumah sakit, harga 1 tabung oksigen kurang lebih 50.000-80.000, kita buat rata-rata 60.000 misalkan, jika 1 hari menghabiskan 1 tabung oksigen di kali 1 bulan, maka 30×60.000= 1.800.000, satu tahun 30x12x60.000=21.600.000, berapa tahun kita hidup di dunia?? Itu hanya oksigen yang kita hirup, belum hal lain seperti normalnya pendengaran, bisa berkedipnya mata tanpa gangguan, normalnya indera pembau, indera peraba, dan sebagainya. Maka kita sebagai seorang manusia yang ‘di ciptakan’ harus memenuhi perintah dari ‘yang menciptakan’ sebagai wujud kasih sayang kita kepada sang khaliq.
Perintah dalam islam seperti shalat, zakat, puasa merupakan kewajiban mutlak yang harus dilakukan oleh semua umat muslim tanpa terkecuali, namun beberapa hal yang sunnah pun bisa diistiqomahkan agar seseorang lebih dekat kepada Allah, seperti shalat tahajjud, shalat dhuha, shalat rawatib, shalat tasbih, shalat witir, dan shalat tarawih. Keutamaan shalat sunnah adalah menutupi kekurangan pada shalat wajib, dalam shalat yang kita lakukan terkadang dalam keadaan kurang khusyu’, kurang tawadhu’ (tenang), terkadang malah ingat dengan masalah-masalah dan urusan dunia. Maka sebaiknya kita melaksanakan shalat sunnah semampu yang kita lakukan dan lebih baik lagi jika bisa meng-istiqamahkannya.
Dijelaskan keutamaan shalat sunnah terhadap shalat wajib pada riwayat Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ ».
“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.” (HR. Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426 dan Ahmad 2: 425. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Selain keutamaan shalat sunnah secara umum, beberapa shalat sunnah mempunyai keutamaan khusus seperti shalat dhuha yang dilakukan 4 rakaat akan mendapatkan penjagaan dari keburukan pada sisa hari itu; baik dari berbagai marabahaya yang bersifat fisik seperti bencana maupun keburukan secara maknawi, seperti penjagaan dari perbuatan maksiat (lihat e-book Hadis Qudsi halaman 231 bab keutamaan shalat dhuha). Selain mendapatkan penjagaan, kebanyakan masyarakat tahu bahwa keutamaan shalat dhuha adalah memperlancar rezeki, benarkah demikian?
Jika diperhatikan, diantara keutamaan shalat dhuha adalah penekanan pada urusan akhirat, seperti pada hadis berikut:
Pertama, hadis dari Abu Buraidah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Dalam diri manusia terdapat 360 ruas tulang, wajib bagi semua orang untuk mensedekahi setiap ruas tulangnya.” Para sahabat bertanya: “Siapakah yang mampu melakukan hal itu, wahai Nabi Allah?” Beliau bersabda: “Menutupi ludah di masjid dengan tanah, menyingkirkan sesuatu dari jalan (bernilai sedekah). Jika kamu tidak bisa mendapatkan amalan tersebut maka dua rakaat Dhuha menggantikan (kewajiban)mu.” (HR. Abu Daud 5242, Ahmad 23037 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Kedua, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus sekelompok utusan perang, kemudian utusan ini membawa banyak harta rampasan perang dan pulangnya cepat. Kemudian ada seorang berkata: “Wahai Rasulallah, kami tidak pernah melihat kelompok yang lebih cepat pulang dan lebih banyak membawa ghanimah melebihi utusan ini.” Kemudian Beliau menjawab: “Maukah aku kabarkan keadaan yang lebih cepat pulang membawa kemenangan dan lebih banyak membawa rampasan perang? Yaitu seseorang berwudlu di rumahnya dan menyempurnakan wudlunya kemudian pergi ke masjid dan melaksanakan shalat subuh kemudian (tetap di masjid) dan diakhiri dengan shalat Dhuha. Maka orang ini lebih cepat kembali pulang membawa kemenangan dan lebih banyak rampasan perangnya.”
(HR. Abu Ya’la dalam Musnadnya no. 6559, Ibn Hibban dalam Shahihnya no 2535, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib wat Tarhib 664)
Jika dikaitkan dengan pemahaman mayoritas masyarakat secara umum yang menyebutkan bahwa shalat dhuha bisa memperlancar rezeki, mungkin karena berpijak pada bacaan do’a setelah shalat dhuha dan salah satu hadis berikut:
Hadis dari Uqbah bin Amir al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya Allah berfirman: “Wahai anak adam, laksanakan untukKu 4 rakaat di awal siang, Aku akan cukupi dirimu dengan shalat itu di akhir harimu.” (HR. Ahmad 17390, dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Targhib wat Tarhib 666 dan Syuaib al-Arnauth).
Arti do’a setelah shalat dhuha:
“Ya Allah, sesungguhnya waktu Dhuha adalah waktu Dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu”
“Ya Allah, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hamba-Mu yang sholeh”
“Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Ya Allah, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu dan kekuatan-Mu, berikanlah kepadaku apa yang Engkau berikan kepada hamba-hambaMu yang shalih.”
Jika dilogika kan, hubungan antara shalat dhuha dengan lancarnya rezeki terdapat pada waktunya. Waktu dhuha berkisar mulai pukul 07.00-11.30 WIB, sedangkan pada waktu tersebut secara umum adalah waktu manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebanyakan orang yang telah sibuk dengan pekerjaannya, akan lalai terhadap ibadahnya, maka jika seseorang melakukan shalat dhuha bisa dikatakan ia adalah hamba yang tidak melupakan Tuhan nya karena ia tetap ingat Allah meksi dalam keadaan sibuk bekerja. Hal demikian lah yang menjadi sebab dipermudahnya urusan seseorang (yang melakukan shalat dhuha), sehingga ketika urusan menjadi mudah, rezeki pun menjadi lancar. Rezeki dalam konteks ini (yang juga terdapat dalam arti do’a shalat dhuha) bukan hanya berupa materi (uang), tapi meliputi kesehatan jasmani, kesehatan rohani, kejernihan fikiran, dan ketenangan hati.
Wallahu A’lam, semoga bermanfaat..
By: Zuli Dwi
Sebuah kisah dari seorang dokter yang merasa bersyukur setelah bertemu dengan sang pengemis. Azam seorang dokter di sebuah rumah sakit yang sudah berkeluarga dan memiliki seorang putri. Suatu hari dia dan keluarganya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di toko swalayan. Usai membayar, mereka membawa sejumlah tas plastik belanjaan dan keluar dari toko swalayan.
Istri Azam dihampiri wanita pengemis bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata “minta sedekah, Bu!”. Istri Azam menyodorkan uang kertas Rp. 1.000,-. Saat menerima uang Rp. 1.000,- wanita pengemis itu memegang kepala anaknya sambil menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulut seakan ingin berkata, “aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!”.
Mendapat isyarat pengemis wanita itu, istri Azam membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, “tidak….. aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu”. Dan diapun malah menuju gerobak tukang gorengan untuk membeli cemilan. Pada saat itu Azam berjalan ke arah ATM center untuk mengecek saldo rekening.
Di depan ATM, Azam memasukkan kartu ke dalam mesin kemudian ia menekan tombol “informasi saldo”, muncullah beberapa digit angka. Azam melihatnya sambil tersenyum karena ternyata uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening. Dia menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah sudah menyesaki isi dompetnya. Lalu ada selembar uang berwarna merah juga, namun kali ini uang tersebut bernilai Rp. 10.000,- yang ditarik dari dompetnya. Uang itu kemudian dilipat kecil dan diberikan kepada wanita pengemis yang minta tambahan sedekah.
Wanita pengemis itu sangat girang saat melihat uang yang diterimanya senilai Rp. 10.000,-. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Azam: “Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah… terima kasih tuan!. Semoga Allah memberikan rezeki berlipat ganda untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga yang harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga …..”
Azam tidak menyangka ia akan mendengarkan respon yang begitu mengharukan. Azam mengira bahwa pengemis wanita itu hanya akan mengucapkan terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan wanita pengemis itu membuat Azam terpukau dan membisu. Azam pun mendengar wanita pengemis itu berkata kepada putrinya “Nak, Alhamdulillah…akhirnya kita bisa makan juga ……..!”
Wanita pengemis itu sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Azam membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.
Azam masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Azam. Mata Azam mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. “Ada apa pa?” istrinya bertanya.
Dengan suara yang agak berat dan terbata Azam menjelaskan: “Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita pengemis itu sebanyak Rp. 10.000,-!”. Awalnya istri Azam marah, namun Azam melanjutkan kalimatnya: “Ma…, aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Dan saat wanita pengemis itu menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaang sekali ia berdoa!”
“Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar Rp. 10.000,- saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mencek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.
“Ma…, aku malu kepada Allah! Dia terima hanya Rp. 10.000,- begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima Rp. 10.000,- dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah.”
Azam mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba.
Sedekah merupakan bukti iman dan ketaatan manusia pada Allah SWT. Sedekah itu tidak dapat dipaksakan, tetapi sedekah merupakan panggilan hati dan jiwa untuk melakukannya dengan ikhlas dan dapat menyenangkan hati orang lain.
Allah SWT berfirman dalam surah al-Baqarah
ayat 245
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ
اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ
وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُون
Artinya: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”
Semoga kisah di atas dapat menjadi inspirasi juga instrokpeksi diri bagi kita semua, syukur yang bagaimana yang telah kita lakukan dibandingkan pemberian Allah yang telah kita terima selama ini? Semoga kita semua diberikan hidayahNya sehingga mampu bersyukur bukan hanya dari lisan kita, namun hati dan melalui perbuatan, bukan syukur yang sedikit atas pemberian yang banyak, namun syukur yang tak terhingga atas nikmat yang kita dapat, walaupun sedikit. Wallahu A’lam..
By: Neemah_Khoir