KEUNIKAN NUSANTARA DALAM PERAYAAN HARI KELAHIRAN RASULULLAH

LPPAI.NEWS: Hari kelahiran nabi agung kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam jatuh pada tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun gajah, yang betepatan dengan 20 April 571 M. saat itu kondisi kota Makkah sedang dilanda ancaman peperangan , pasukan gajah raja Abrahah yang dipimpin oleh panglima perang Abu Rughal menyerang kota Makkah dan ingin menghancurkan Ka’bah. lahirnya Nabi Agung yang merupakan Nabi terakhir ini banyak terdapat tanda-tanda besar dan luar biasa yang belum pernah dialami oleh kelahiran Nabi-nabi sebelumnya, seperti munculnya burung ababil membawa batu-batu panas dan berpijar menyerang pasukan Gajah Raja Abrahah, padamnya api Majusi yang telah berabad-abad tidak pernah padam dan menjadi sesembahan masyarakat Majusi kala itu, berpindahnya bintang besar yang bercahaya dari tempat asalnya seperti yang diberitakan dalam kitab Taurat pada kaum Nabi Musa, pohon kurma yang kering kembali berdaun dan berbuah, mata air yang telah kering kembali memancarkan air dengan derasnya seperti yang diberitakan dalam kitab Zabur (kitab suci Nabi Daud), dan sujudnya (kepada Allah) patung berhala yang berada di dalam Ka’bah.

Rasulullah Muhammad adalah Nabi terakhir yang hanya kepadanya diturunkan Kalam Allah yang menjadi mu’jizat terbesar sepanjang sejarah dan kehidupan. Akhlak dan perilaku beliau dijadikan tauladan, Sunnah-sunnah beliau dijadikan sumber hukum ajaran Islam, setiap kata yang keluar dari lisan beliau menentramkan hati orang yang mendengarnya, siapapun yang pernah menyentuh kulit Rasulullah, akan haram baginya api neraka, dan hingga saat ini, do’a, pujian-pujian shalawat kepada beliau berkumandang, bergema pada surau di setiap sudut desa hingga dunia dan di setiap lisan umat muslim. Diantara keistimewaan yang Allah berikan kepada beliau yaitu menjadi pemimpin agama sekaligus pemimpin negara yang menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan sangat baik, cara kepemimpinan beliau menjadi acuan pengaturan pemerintahan negara yang paling baik dan ideal meski pada zaman sekarang banyak negara telah mengalami revolusi sistem pemerintahan, begitu besar jasa dan pengaruh beliau dalam dunia islam dan kehidupan ini maka sangat pantas apabila hari kelahiran beliau dirayakan oleh seluruh umat muslim di seluruh dunia.

Begitu mulianya hari bersejarah tersebut sehingga oleh umat muslim di peringati setiap tahunnya, secara umum masuk dalam peringatan hari besar islam yaitu Maulud Nabi. Banyaknya suku dan budaya di Indonesia memberi akibat perbedaan cara merayakan peringatan Maulud Nabi di setiap wilayah di nusantara. Mereka memiliki alasan-alasan tertentu pada cara nya memperingati hari tersebut. Meski demikian yang paling penting adalah bagaimana kita mengisi perayaan Maulid Nabi dengan menerapkan cara-cara islami yang tidak menyimpang dari ajaran beliau.

  1. Sekaten

Hampir seluruh masyarakat muslim di seluruh wilayah Indonesia memperingati Maulud Nabi dengan cara yang unik dan khas. Di Yogyakarta ada sebuah budaya yang hingga saat ini masih terus dilestarikan yaitu sekaten. Sekaten merupakan upacara pendahuluan dari peringatan Maulud Nabi yang diselenggarakan di keraton Yogyakarta dari tanggal 5 sampai 12 Rabiul Awwal setiap tahunnya. Acara inti dari peringatan ini adalah dibunykannya perangkat gamelan Kiai Nogowilogo dan Kiai Guntur Madu kemudian dilanjutkan dengan pemberian sedekah berupa “udhik-udhikan” (menyebar uang koin), diangkatnya dua gamelan menuju Masjid Agung dan ditutup dengan grebeg.

2. Bungo Lado

Di kota Padang, peringatan Maulud Nabi dilaksanakan dengan tradisi Bungo Lado. Dalam tradisi ini, masyarakat membuat pohon buatan yang nantinya dihiasi dengan uang kertas asli pecahan 10 ribuan dan 20 ribuan yang ditata rapi dan diarak keliling desa. Setelah mengarak pohon uang, masyarakat menyumbangkan uang tersebut untuk kesejahteraan umat seperi pembangunan masjid. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas rezeki yang telah diberikan selama menjalani kehidupan.

3. Festival Endog-endogan

Perayaan Maulud Nabi di Banyuwangi diisi dengan tradisi yang biasa disebut festival endog-endogan. Acara tersebut dilakukan dengan mengarak ribuan telur yang ditancapkan pada pelepah pohon pisang. Jodang (pelepah pisang) tersebut lalu dihias dengan beraneka rupa dan diarak dari lima penjuru yang melambangkan jumlah shalat wajib bagi umat muslim, arak-arakan itu diiringi dengan lantunan shalawat nabi. Bagi masyarakat Banyuwangi, tradisi ini memiliki makna filosofi yang tinggi, endog atau telur memiliki tiga lapisan, yakni kulit telur, putih telur dan kuning telur. Kulit telur diibaratkan sebagai lambing keislaman sebagai identitas seorang muslim. Putih telur melambangkan keimanan lalu kuning telur melambangkan keikhlasan, dimana seorang muslim yang beriman akan memasrahkan diri dan menerima dengan ikhlas semua ketentuan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

4. Kirab Ampyang

Kirab ampyang pada awalnya merupakan media penyiaran agama Islam oleh para wali di wilayah Loram Kulon, Jati, Kudus, Jawa Tengah. Tradisi ini dilakukan dengan menyajikan makanan yang dihiasi dengan ampyang atau nasi dan krupuk yang ditempatkan pada tandu, diarak keliling desa sebelum menuju ke masjid Wali di desa setempat. Beberapa warga menyajikan kesenian berupa visualisasi tokoh-tokoh yang berjasa atas berdirinya Desa Loram Kulon serta sejarah pendirian masjid wali At-Taqwa. Setelah sampai di masjid, tandu yang berisi makanan serta hasil bumi itu dido’akan oleh ulama setempat, kemudian dibagikan kepada warga untuk mendapatkan berkah.

5. Maudu Lompoa Cikoang

Di Sulawesi Selatan, tepatnya di Cikoang, Takalar ada sebuah tradisi menyambut Maulud Nabi yang dilaksanakan dengan memadukan unsur atraksi budaya dengan ritual-ritual keagamaan yang digelar setiap tahun di bulan Rabiul Awal. Uniknya, tradisi ini memerlukan waktu persiapan yang cukup panjang, yaitu 40 hari. Tradisi ini diawali dengan mandi di bulan safar yang dipimpin oleh para sesepuh desa. Pada hari perayaan Maudu Lompoa, masyarakat memakai pakaian adat, berjalan berbaris beriringan rapi memikul julung-julung, julung-julung ini berisi telur, ayam, beras dimasak setengah matang, beras ketan, perlengkapan shalat, kain khas sulawesi dan aksesoris lainnya. Selanjutnya julung-julung diarak dan diperebutkan oleh semua orang.

Di beberapa wilayah lain secara umum masyarakat menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi dengan serangkaian acara mulai dari pembacaan dzikir, shalawat, ceramah agama dan makan bersama. Keunikan tradisi Nusantara di hari maulud Nabi ini memberikan bukti bahwa Islam di Nusantara tidak pernah bisa lepas dari kekayaan budaya di Indonesia, bisa dibayangkan bagaimana meriahnya peringatan hari besar Islam maupun peringatan hari besar Nasional lain di setiap wilayah dengan suguhan keunikan masing-masing tradisi masyarakat. Kekayaan budaya yang unik ini harus kita jaga dan pelihara agar tetap lestari dari masa ke masa, sehingga bangsa ini tetap bersatu padu dalam perbedaan.

By: Zuli

SANTRI, IDENTITAS ABADI

Lppai.News; Santri, satu kata yang sangat populer dan hampir seluruh elemen masyarakat mengenalnya. Ketika menyebut santri, maka yang terlintas dalam fikiran adalah pesantren, Kiai, belajar mengaji, kitab kuning, sorogan, ro’an, dan belajar mandiri. Pesantren sebagai wadah sekaligus lembaga pendidikan satu-satunya yang mampu menampung ribuan santri mulai dari anak-anak hingga dewasa, memberi bukti nyata eksistensinya terhadap dunia pendidikan. Hanya pesantren saja yang mau menerima santri dengan tidak melihat nilai hasil belajar pada pendidikan formal maupun nonformal, karena pada hakikatnya pesantren adalah tempat untuk belajar ilmu agama, dan agama tidak pernah membatasi usia untuk belajar, juga tidak memberikan syarat yang menyulitkan seseorang untuk bisa belajar ilmu tersebut.

Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan pesantren telah mengakar kuat dan memberi pondasi terkokoh bagi dunia pendidikan, juga kemajuan negara. Sejarah menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia diperjuangkan oleh sebagian besar santri dengan pemimpin para Ulama’ dan Kiai, maka secara tidak langsung pesantren dengan dunianya telah memiliki kemampuan untuk memajukan negeri ini.

A. Perjuangan Santri Di Pesantren

Ibarat mesin penanak nasi yang merubah beras menjadi nasi siap makan, pengolahannya melalui proses dengan waktu yang tidak singkat. Begitupula dengan pesantren yang menjadi tempat mengolah santri dari awam hingga berilmu tinggi, siap mengabdi kepada masyarakat. Proses yang dilalui santri tidaklah mudah, orang yang tidak sabar dan tidak memiliki kemauan kuat tidak mungkin betah hidup di pesantren.

Pesantren memiliki sistem pendidikan 24 jam sehari, mulai dari pendidikan agama, pendidikan karakter, pendidikan sosial dan pendidikan kedisiplinan setiap hari dilakukan tanpa henti. Selain itu peraturan-peraturan pesantren yang tidak boleh dilanggar, jam kegiatan yang ketat, semua serba mengantri, harus teliti terhadap barang-barang pribadi atau yang menjadi tanggungjawabnya, taqror (belajar bersama), ro’an (piket pesantren, asrama, kamar), semuanya harus dijalani dengan sabar dan ikhlas. Belum lagi jika sudah menjadi santri senior dan pengurus, bertanggung jawab terhadap kondisi santri junior, membersihkan jika ada santri ngompol, membantu memecahkan masalah, merawat santri yang sakit dan menjadi contoh yang baik untuk mereka.

Situasi di pesantren sengaja dibentuk sedemikian rupa dengan tujuan menjadikan santri yang berkualitas secara keilmuan dan akidah, menyiapkan pemimpin berpotensi dan berpondasi islami yang siap terjun di masyarakat dari wilayah kota hingga ke pelosok desa. Besarnya cita-cita pesantren mengharuskan santri mengenyam seluruh  pendidikan yang ada di dalamnya, dengan demikian pada hakikatnya santri yang sedang menempuh pendidikan di pesantren adalah mereka yang sedang berjuang melatih diri, mental dan fisiknya agar siap menghadapi tantangan ketika suatu saat mereka mengamalkan ilmunya dan mengabdi untuk masyarakat.

B. Karakter Khas Santri

Telah diketahui bahwa pesantren memiliki pendidikan 24 jam yang salah satunya meliputi pendidikan karakter. Karakter santri harus dibentuk dengan pembiasaan dan latihan selama di pesantren. Pesantren tidak hanya mengajarkan pendidikan itu, tapi juga mencontohkan dan mengamalkannya sebagai perilaku keseharian santri. Santri memiliki karakter khas yang hanya dimiliki oleh mereka yang belajar ilmu agama di pesantren.

  1. Berbudaya pesantren

Tidak dapat dipungkiri bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan terbesar yang mampu mendidik ribuan santri dengan cara yang efektif dan efisien. Pesantren memiliki budaya unik yang hanya bisa ditemukan di pesantren saja:

  1. Budaya mengantri

Tidak ada satu kegiatanpun yang dilakukan tanpa harus terlebih dahulu mengantri, karena banyaknya jumlah santri mengharuskan semua hal dilakukan secara bergantian, maka mengantri ini dapat melatih sikap sabar dan ikhlas.

  • Gotong royong

Tidak ada santri yang hidup individualis, mereka hidup bersama, tidur bersama, makan bersama, mencuci baju bersama, jama’ah halat bersama, mengaji bersama, semua kegiatan dilakukan secara bersama-sama dengan santri lain yang bisa jadi memiliki ras, suku, adat istiadat, karakter, latar belakang pendidikan dan latar belakang keluarga yang berbeda. Kebersamaan santri dalam kehidupannya di pesantren memaksa mereka untuk hidup bergotong royong, saling membantu, melengkapi, bahu membahu menciptakan kerukunan dalam kebersamaan.

  • Saling mengasihi

Pesantren dipenuhi dengan beribu-ribu santri yang memiliki jenjang pendidikan berbeda, ada santri junior, senior, pengurus, dan ustadz, ustadzah. Realitanya, dalam tatanan organisasi dan miniatur kehidupan di pesantren, santri yang lebih tua harus memberi uswah hasanah kepada yang lebih muda, santri muda menghormati kepada yang lebih tua, dan semuanya saling mengasihi.

  • Sopan, santun, beradab

Ciri khas santri yang paling mencolok dan bisa dilihat secara langsung adalah sopan santun dan adab mereka. Sudah tidak diragukan lagi bahwa ketika masuk dalam dunia pesantren, sopan santun telah diajarkan, ditanamkan, dibiasakan dan wajib dijalankan oleh setiap santri. Selain itu adab mereka juga di bentuk sesuai dengan adab yang diajarkan oleh agama Islam, baik adab kepada sesama manusia maupun ciptaan Allah yang lain.

2. Tidak meninggalkan shalat

Perintah shalat merupakan perintah yang secara langsung diberikan oleh Allah kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tanpa perantara. Santri yang belajar ilmu agama di pesantren pasti memiliki pondasi kuat terhadap perintah ini, semua pesantren baik salafi, tahfidz maupun modern semuanya mengajarkan dan membiasakan shalat jama’ah minimal 5 waktu yang wajib.

3. Tawadhu’

Santri yang sesungguhnya memiliki sifat tawadhu’, mereka mendalami dan menyelami berbagi ilmu agama dari para pendahulunya (Guru, Kiai, Ulama’). Meskipun seorang santri berilmu tinggi, ia akan tetap tawadhu’ karena dia sadar bahwa ilmu yang diperolehnya saat ini tidak ada apa-apanya dibanding ilmu Allah yang Maha Besar dan Maha Luas, ilmu yang sedikit itu tidak layak disombongkan.

4. Patuh kepada orang tua

Dalam jiwa santri telah ditanamkan “ridho Allah tergantung ridho orang tua”, dari itulah seorang santri meskipun terkadang jengkel atau tidak sependapat dengan orang tua, mereka akan tetap hormat dan patuh kepada mereka.

5. Ta’dzim kepada guru

Setiap santri memiliki guru sebagai seseorang yang memberikan, mengarahkan dan membiarkan muridnya untuk menyelami samudera keilmuan dengan batas-batas syari’at agama. Dari guru lah santri mendapat ilmu meski hanya satu huruf, disini seorang santri memiliki kesadaran bahwa yang menjadi harapan adalah memiliki ilmu yang bermanfaat, dan kemanfaatan ilmu itu bisa tercapai ketika santri ta’dzim kepada gurunya. Meski seorang santri memiliki banyak ilmu melebihi ilmu gurunya, jika mereka tidak ta’dzim kepada guru, maka ilmu itu akan menutup keberkahan hidup atau paling tidak ilmu yang didapat akan sia-sia.

6. Berakhlak Al-Qur’an

Setiap hari santri mengaji ilmu agama, agama mengatur tata cara bersosial baik secara vertikal (dengan khaliq) maupun secara horizontal (dengan makhluk). Selain itu santri dibiasakan setiap jam, setiap hari dan setiap waktu untuk menjalankan kehidupan dengan akhlak yang sesuai dengan Al-Qur’an, yaitu akhlakul karimah, sehingga mereka terbiasa menjaga lisan, menjaga hati, menjaga setiap perilakunya agar sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an.

C. Santri Sebagai Indentitas

Ditengah arus modernisasi dunia pendidikan, pesantren yang masih mempertahankan metode pembelajaran zaman dulu (sorogan, wetonan, bandongan) tidak membuat kiprahnya surut untuk mengepakkan sayap selebar-lebarnya dalam memajukan pendidikan Indonesia. Modernisasi pendidikan yang terjadi saat ini dengan dirubahnya kurikulum, model dan metode pembelajaran, alat-alat belajar, penyusunan, penyediaan dan pembaruan modul serta buku-buku paket untuk belajar siswa menjadi bukti nyata usaha pemerintah untuk kemajuan dunia pendidikan. Namun pesantren tetap khidmat pada kitab-kitab kuning dan metode pembelajaran yang dari dulu hingga sekarang tidak berubah.

Alumni pesantren saat ini telah menjamur di berbagai pelosok nusantara, dari kemerdekaan Indonesia yang dipelopori oleh Kiai, Ulama dan santri hingga saat ini tokoh dan pemimpin Indonesia sebagian besar adalah alumni pesantren. Dengan demikian, sumbangsih pesantren terhadap negara sangatlah besar, bukan hanya dalam bidang pendidikan, tapi pada semua bidang dan lini kehidupan.

Alumni pesantren yang berkiprah di penjuru nusantara tetap disebut sebagai santri, mereka memikul tanggung jawab besar atas nama pesantren, atas ilmu yang mereka peroleh di pesantren hingga bisa menjadikan para alumninya menjadi pemimpin yang siap memimpin dimanapun dan kapanpun tentunya sesuai dengan ajaran agama yang diperoleh saat menjadi santri. Disinilah identitas santri yang sesungguhnya, bahwa santri akan selalu menjadi santri meskipun ia tidak lagi tinggal di pesantren, ia tetap santri dari guru-gurunya, Kiai dan pesantren nya, identitas itu akan selalu menempel pada diri seorang santri meski suatu saat ia sudah meninggal. (By.Zuli)

Parameter Pendidikan Agama, Naik? atau Turun?

Pendidikan agama wajib dilakukan oleh setiap manusia, karena tidak ada satu orangpun yang tidak beragama. Pendidikan agama pertama kali dikenalkan oleh orang tua kepada anaknya, sebagian besar anak akan menerima dan menjalankan agama seperti yang diajarkan orang tuanya hingga mereka dewasa dan menurunkan agama itu kepada anak cucu mereka.

Mengenai pendidikan agama, Mayoritas umat muslim mengenyam pendidikan agama pada pesantren dan lembaga pendidikan agama seperti taman pendidikan Al Qur’an dan madrasah Diniyah. Sebagai kelanjutan dari pendidikan agama oleh orang tua, anak-anak di masukkan pada taman pendidikan Al-Qur’an untuk mempelajari agama lebih dalam, pada tahap ini umumnya anak-anak belajar baca tulis Al Qur’an, hafalan surat-surat pendek, pendidikan akhlak, dan mempelajari kisah nabi-nabi. Setelah menyelesaikan pendidikannya dan lulus ujian akhir mereka akan naik ke jenjang berikutnya yaitu pada madrasah Diniyah. Pada madrasah ini ilmu-ilmu agama yang diajarkan lebih luas dan mendalam, banyak pelajaran lain yang harus di pelajari seperti belajar membaca dan menulis makna pego kitab-kitab kuning pada tahap dasar. Setiap madrasah Diniyah memiliki kurikulum sendiri dan kitab-kitab yang akan dipelajari santri. Setelah santri menyelesaikan pendidikan Diniyah, selanjutnya mereka harus mempelajari pelajaran agama pada tahap selanjutnya, yaitu di pesantren. Pesantren dikenal sebagai satu-satunya lembaga pendidikan agama yang paling tua di Indonesia serta sebagai lembaga pendidikan tingkat atas pada ranah pendidikan agama. Lulusan pesantren dipandang sebagian besar masyarakat sebagai orang-orang yang tinggi ilmu agamanya dan mampu memimpin masyarakat.

Dari setiap elemen pendidikan pasti ada permasalahan yang terjadi, baik dari pendidikan sekolah, umum maupun pendidikan agama. Masalah yang saat ini muncul adalah menurunnya tingkat kesadaran masyarakat akan pendidikan agama pada anak-anak mereka yang diakibatkan oleh beberapa faktor. Realitanya, sedikit sekali perbandingan prosentase anak-anak usia sekolah dasar yang aktif sebagai santri di taman pendidikan Al-Qur’an dan yang aktif di sekolah formal. Hal ini terjadi pula pada lembaga pendidikan Diniyah, bahkan lebih parah, pasalnya santri pada madrasah Diniyah lebih banyak yang terpengaruh oleh kemajuan teknologi dan lingkungan yang kurang baik, tepatnya lebih mementingkan kepentingan pribadi nya, asyik bermain gadget atau bermain bersama teman-temannya, terlebih diberlakukannya sistem full day pada beberapa sekolah mengakibatkan mereka sudah lelah dan mengabaikan pendidikan agama pada lembaga yang ada.

Sekedar pesan bagi orang tua, bahwa anak adalah aset bangsa yang harus di didik dan diarahkan karena kelak mereka lah yang akan menjadi generasi penerus demi terciptanya kesejahteraan, kemakmuran, kedamaian dan kemajuan bangsa, bukan sekedar generasi penerus kehidupan keluarga.

By: Zuli