AMALAN SUNNAH DI BULAN DZULHIJJAH

Assalamualaikum saudara muslim muslimahku..

Luapan syukur kepada Dzat yang maha Mulia, maha Agung, Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas Rahmat-Nya mempertemukan kita kembali dengan salah satu bulan Asyhurul Hurum yaitu bulan Dzulhijjah. Izinkan saya membagi tulisan sederhana ini dengan maksud mengingatkan, menambah pengetahuan, memberi motivasi dan semoga membawa manfaat untuk para pembaca.

Bulan Asyhurul Hurum merupakan bulan-bulan yang diagungkan oleh Allah. Dalam Islam, ada empat bulan yang disebut dengan asyhurul hurum  yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi Saw bersabada;

إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ  وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى  وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab Mudhar, yang terdapat di antara bulan Jumada Akhirah dan Sya’ban.” 

Orang-orang Arab menamai bulan tersebut dengan nama Dzulhijjah adalah karena pada bulan tersebut orang-orang Arab melakukan ibadah haji sebagai bentuk pelaksanaan ajaran-ajaran Nabi Ibrahim Alaihissalam, dan kebiasaan ini sudah ada sejak zaman Jahiliyah. Dzulhijjah berasal dari dua kata, yaitu Dzul yang artinya pemilik dan Al-Hijjah yang artinya adalah Haji.

Di dalam bulan Dzulhijjah terdapat beberapa peristiwa yang merupakan sejarah penting serta jendela baru bagi perubahan kehidupan bagi umat islam. Peristiwa-peristiwa tersebut disebutkan dalam kitab Durratun Nasihin yang ditulis oleh Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir al-Khaubawiyyi. Berikut ini peristiwa besar pada bulan Dzulhijjah dikutip lppai.unisda.ac.id dari Tribunnews dan zakat.or.id.

  1. Pada tanggal 1 Dzulhijjah, Allah mengampuni kesalahan Nabi Adam yaitu melanggr perintah Allah dengan memakan buah khuldi
  2. Pada tanggal 2 Dzulhijjah, Allah menyelamatkan Nabi Yunus yang terjebak dalam perut ikan selama beberapa hari, beliau senantiasa bertasbih dan beribadah kepada Allah.
  3. Pada tanggal 3 Dzulhijjah, Allah mengabulkan do’a Nabi Zakariya yang menginginkan kehadiran seorang putra padahal saat itu usia beliau 120 tahun, maka Allah memberikan karunia seorang putra bernama Yahya.
  4. Pada tanggal 4 Dzulhijjah, Allah menakdirkan kelahiran Nabi isa di sudut kota Betlehem dam sempat membuat geger kaum yang tinggal di wilayah tersebut lantaran ia lahir dari seorang perempuan yang masih perawan yakni siti maryam.
  5. Pada tanggal 5 Dzulhijjah, Allah menakdirkan kelahiran Nabi Musa di wilayah Uskur, Mesir, yang kemudian di asuh oleh Fir’aun.
  6. Pada tanggal 6 Dzulhijjah, Allah membuka pintu kebaikan kepada Nabi Muhammad SAW, di hari keenam Dzulhijjah ini menjadi hari-hari kemenangan para Nabi dalam berjuang menegakkan ajaran Tauhid.
  7. Pada tanggal 7 Dzulhijjah, pintu neraka ditutup dan dikunci oleh Allah dan baru akan dibuka setelah hari ke sepuluh pada bulan Dzulhijjah.
  8. Pada tanggal 8 Dzulhijjah, Allah meminta Nabi Ibrahim untuk membangun Ka’bah. Dikutip dari islami.co, pada tanggal 8 Dzulhijjah juga Nabi Ibrahim bermimpi mendapat tugas dari Allah untuk menyembelih Ismail. Maka hari ke delapam bulan Dzulhijjah disebut dengan yaumun tarwiyah atau hari merenung dan berfikir.
  9. Pada tanggal 9 Dzulhijjah, Nabi Ibrahim benar-benar yakin bahwa mimpinya di malam kesembilan tersebut merupakan perintah dari Allah. Hari ke sembilan ini disebut dengan yaumun Arafah, karena tempat yang digunakan untuk menyembelih Nabi Ismail bernama Arafah.

Setelah kita tahu banyak peristiwa besar pada bulan Dzulhijjah, kita sebagai umat Islam harus meneladani, mengambil hikmah dan manfaat agar kehidupan kita selanjutnya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Selain beberapa peristiwa besar yang terjadi pada bulan Dzulhijjah, sebagai umat Islam kita harus memperbanyak amalan-amalan sunnah yang pahala nya luar biasa, diantaranya:

  1. Puasa

Puasa sunnah pada bulan Dzulhijjah yang banyak dikenal karena keutamannya adalah puasa tarwiyah yang jatuh pada tanggal 8 Dzulhijjah dan puasa arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Keutamaan puasa arafah yaitu seperti yang telah dijelaskan dalam hadis yang artinya: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim).

Sejumlah ulama berpendapat bahwa puasa sunah dapat dimulai dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Hal tersebut dapat dikuatkan dengan hadis riwayat Imam Abu Daud dari Hunaidah ibn Khalid, dari istrinya, beberapa istri Rasulullah SAW yang artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari Asyura (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, awal bulan di hari Senin dan Kamis.” (HR Abu Daud).

Dikutip lppai.unisda.ac.id dari Rumaysho.com, di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama.

  1. Bertakbir dan Berdzikir

Berdzikir telah biasa dilakukan oleh umat Islam pada waktu-waktu tertentu seperti setelah shalat fardhu, pada acara-acara walimahan, acara rutinan; jama’ah tahlil, jama’ah dziba’, jama’ah manaqib, haul, pengajian dan sebagainya. Bertakbir pun demikian, dalam beberapa waktu tertentu umat Islam memperbanyak dalam mengumandangkan takbir seperti pada malam idul fitri, malam idul adha dan ketika akan melaksanakan penyembelihan hewan qurban.

Pada bulan Dzulhijjah, bertakbir dan berdzikir sebaiknya diperbanyak agar dapat memperoleh manfaatnya. Disunnahkan pula untuk mengeraskan suara ketika bertakbir di pasar, jalan-jalan, di masjid dan tempat-tempat lain sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Bukhari, yang artinya: Ibnu Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah.

  1. Menunaikan Haji dan Umroh

Haji merupakan rukum Islam ke 5. Haji wajib hukumnya bagi orang yang mampu, yaitu mampu secara lahir bathin serta mampu secara finansial dan menjadi amalan yang dilakukan pada bulan Dzulhijjah. Ibadah Haji memiliki keutamaan seperti dijelaskan dalam hadis yang artinya: Rasulullah SAW ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau menjawab, “Beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah SWT.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur,” jawab Rasulullah SAW. (HR Bukhari). Bulan Dzulhijjah juga merupakan bulan yang afdhal untuk melaksanakan ibadah umroh.

  1. Memperbanyak Amal Sholeh

Berdasar pada hadis riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma yang artinya: “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.“ Maka jelas bahwa pada bulan Dzulhijjah kita sebagai umat Islam dianjurkan melakukan amalan sholeh sebanyak mungkin seperti amalan sunnah shalat, sedekah, membaca Al Qur’an dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Lalu apakah pada selain bulan Dzulhijjah kita tidak harus melakukan amalan sunnah dalam jumlah yang banyak? Jawabannya, bukan sebuah keharusan, namun lebih tepatnya tentu sangat boleh, ketika kita telah banyak melakukan amal sholeh di lain bulan Dzulhijjah dalam jumlah yang banyak, sebaiknya pada bulan mulia ini kita harus berusaha melakukan amal lebih banyak lagi, mempersempit waktu tidur untuk berdzikir, membaca Al Qur’an, mengambil sela-sela waktu bekerja untuk melafadzkan kalimat-kalimat thayyibah, membantu orang lain yang butuh bantuan kita baik berupa uang, tenaga maupun fikiran.

  1. Berqurban

Pada hari Nahr (10 Dzulhijjah) dan hari tasyriq terdapat amalan yang menjadi bagian dari idul adha pada bulan Dzulhijjah yaitu berqurban. Dijelaskan dalam surat Al-Kautsar ayat 2 yang artinya: “Maka salatlah kamu untuk Tuhanmu dan berkurbanlah!.” Sangat jelas perintah dalam ayat tersebut, qurban menjadi ibadah yang disyariatkan dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah dimana terdapat nilai-nilai ibadah secara vertikal dan horizontal yang terdapat dalam ajaran Islam.

Ibadah secara vertikal yang dimaksud adalah ibadah kepada sang pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mencintai salah satu amalan pada bulan Dzulhijjah yaitu qurban seperti dijelaskan dalam hadis yang artinya: Dinarasikan Aisyah, Rasulullah SAW mengatakan, “Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai Allah SWT daripada mengalirkan darah dari hewan kurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan kurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridho) Allah SWT sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.” (HR Tirmidzi).

Sedang ibadah secara horizontal yaitu ibadah yang dilakukan pada lingkungan kehidupan bersosial atas perintah Allah. Dalam hal ini membagikan daging hewan qurban kepada semua masyarakat terutama yang membutuhkan, agar mereka bisa menikmati makanan halal yang bergizi, sama seperti yang dimakan oleh orang yang berqurban.

By : Zuli Dwi

HISTORI DAN KEANEKARAGAMAN PERINGATAN HARI RAYA IDUL ADHA

Idul Adha merupakan salah satu hari raya umat Islam yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Idul adha juga disebut dengan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin yang sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang di sebut pakaian ihram, melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai persamaan dalam segala segi bidang kehidupan. Tidak dapat dibedakan antara mereka, semuanya merasa sederajat. Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa, sambil bersama-sama membaca kalimat talbiyah.

Disamping Idul Adha dinamakan hari raya haji, umat Islam menyebutnya dengan sebutan “Idul Qurban”, karena pada hari itu Allah memberi kesempatan kepada kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Bagi umat muslim yang belum mampu mengerjakan perjalanan haji, maka ia diberi kesempatan untuk berkurban, yaitu dengan menyembelih hewan qurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kita kepada Allah SWT.

Historis perayaan Idul Adha ini berawal dari kisah teladan Nabi Ibrahim, yaitu ketika Beliau diperintahkan oleh Allah SWT untuk menempatkan istrinya Hajar bersama Nabi Ismail putranya, yang saat itu masih menyusu. Mereka ditempatkan disuatu lembah yang tandus, gersang, tidak tumbuh sebatang pohon pun. Lembah itu demikian sunyi dan sepi tidak ada penghuni seorangpun. Nabi Ibrahim sendiri tidak tahu, apa maksud sebenarnya dari wahyu Allah yang menyuruh menempatkan istri dan putranya yang masih bayi itu, ditempatkan di suatu tempat paling asing, di sebelah utara kurang lebih 1600 KM dari negaranya sendiri palestina. Tapi baik Nabi Ibrahim, maupun istrinya Siti Hajar, menerima perintah itu dengan ikhlas dan penuh tawakkal.

Seperti yang diceritakan oleh Ibnu Abbas bahwa tatkala Siti Hajar kehabisan air minum hingga tidak biasa menyusui nabi Ismail, beliau mencari air kian kemari sambil lari-lari kecil (Sa’i) antara bukit Sofa dan Marwah sebanyak 7 kali. Tiba-tiba Allah mengutus malaikat jibril membuat mata air Zam Zam. Siti Hajar dan Nabi Ismail memperoleh sumber kehidupan.

Lembah yang dulunya gersang itu, mempunyai persediaan air yang melimpah-limpah. Datanglah manusia dari berbagai pelosok terutama para pedagang ke tempat siti hajar dan nabi ismail, untuk membeli air. Datang rejeki dari berbagai penjuru, dan makmurlah tempat sekitarnya. Akhirnya lembah itu hingga saat ini terkenal dengan kota mekkah, sebuah kota yang aman dan makmur, berkat do’a Nabi Ibrahim dan berkat kecakapan seorang ibu dalam mengelola kota dan masyarakat.

Idul Adha dinamai juga “Idul Nahr” artinya hari raya penyembelihan. Hal ini untuk memperingati ujian paling berat yang menimpa Nabi Ibrahim. Akibat dari kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan “Khalilullah” (kekasih Allah).

Dalam kitab “Misykatul Anwar” disebutkan bahwa konon, Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak. Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah tergolong milliuner. Ketika pada suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang “milik siapa ternak sebanyak ini?” maka dijawabnya: “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku Ismail, niscaya akan aku serahkan juga.”

Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul ‘adzim mengemukakan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan anaknya jika dikehendaki oleh Allah itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. 

Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah, datanglah setan sambil berkata, “Ibrahim, kamu orang tua macam apa kata orang nanti, anak saja disembelih?” “Apa kata orang nanti?” “Apa tidak malu? Tega sekali, anak satu-satunya disembeli!” “Coba lihat, anaknya lincah seperti itu!” “Anaknya pintar lagi, enak dipandang, anaknya patuh seperti itu kok dipotong!” “Tidak punya lagi nanti setelah itu, tidak punya lagi yang seperti itu! Belum tentu nanti ada lagi seperti dia.” Nabi Ibrahim sudah mempunyai tekat. Ia mengambil batu lalu mengucapkan, “Bismillahi Allahu akbar.” Batu itu dilempar. Akhirnya seluruh jamaah haji sekarang mengikuti apa yang dulu dilakukan oleh Nabi Ibrahim ini di dalam mengusir setan dengan melempar batu sambil mengatakan, “Bismillahi Allahu akbar”. Dan hal ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah.

Ketika sang ayah belum juga mengayunkan pisau di leher putranya. Ismail mengira ayahnya ragu, seraya ia melepaskan tali pengikat tali dan tangannya, agar tidak muncul suatu kesan atau image dalam sejarah bahwa sang anak menurut untuk dibaringkan karena dipaksa ia meminta ayahnya mengayunkan pisau sambil berpaling, supaya tidak melihat wajahnya.

Nabi Ibrahim memantapkan niatnya. Nabi Ismail pasrah bulat-bulat, seperti ayahnya yang telah tawakkal. Sedetik setelah pisau nyaris digerakkan, tiba-tiba Allah berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannya tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridloi kedua ayah dan anak memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 107-110:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril kagum, seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Nabi Ibrahim menjawab “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian dismbung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.’

Pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang paling besar dalam sejarah umat umat manusia itu membuat Ibrahim menjadi seorang Nabi dan Rasul yang besar, dan mempunyai arti besar. Peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail diatas, bagi kita harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang mengandung pembelajaran paling tidak pada tiga hal yaitu ketakwaan, hubungan antar manusia dan peningkatan kualitas diri.

Di Indonesia terdapat beberapa macam cara merayakan hari raya idul adha yang unik dan sakral diantaranya adalah:

  1. Tradisi Grebeg Gunungan, Jogja

Tradisi Grebeg Gunungan menjadi salah satu cara masyarakat Jogja merayakan Idul Adha yang ditunggu-tunggu setiap tahun. Acara yang digelar oleh pihak Keraton Yogyakarta bersama masyarakat Kota Pelajar ini sangat identik dengan arak-arakan gunungan gerbeg yang nantinya akan diperebutkan oleh warga karena dipercaya dapat mendatangkan berkah.

2.      Tradisi Toron (Mudik), Madura

Tradisi mudik atau yang biasa disebut “toron” dilakukan oleh warga asal Madura, Jawa Timur. Jadi, setiap kali Idul Adha, orang Madura akan melakukan “toron” alias mudik sambil membawa oleh-oleh. Konon, tradisi ini dibuat untuk menjaga ikatan sosial antara masyarakat Madura perantau dengan tanah kelahirannya.

3. Tradisi Accera Kalompoang, Gowa

Tradisi Accera Kalompoang adalah cara merayakan Idul Adha yang dilakukan oleh masyarakat Gowa, Sulawesi Selatan. Biasanya, setelah Hari Raya Idul Adha, prosesi adat ini dilakukan dengan pencucian benda-benda pusaka milik Kerajaan Gowa. Tentu saja, tradisi Accera Kalompoang Gowa ini menjadi salah satu cara merayakan Idul Adha yang berbeda dari daerah lainnya.

4.      Tradisi Manten Sapi, Pasuruan

Tradisi Manten Sapi di Pasuruan sudah menjadi cara merayakan Idul Adha yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Dalam ritual ini, sapi akan dimandikan kemudian dirias dengan bunga-bunga. Setelah itu, sapi yang akan disembelih diarak keliling kampung sampai akhirnya dituntun ke halaman masjid.

5. Tradisi Apitan, Grobogan

Di Grobogan, ada yang disebut sebagai Tradisi Apitan. Tradisi yang juga disebut sebagai Tradisi Merti Bumi atau Sedekah Bumi ini digelar setiap tahun sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat terhadap anugerah dan rezeki dari Sang Pencipta.

6.      Tradisi Kaul Negeri dan Abda’u, Maluku Tengah

Cara merayakan Idul Adha yang patut disimak selanjutnya adalah Tradisi Kaul Negeri dan Abda’u yang digelar di Maluku Tengah. Tradisi untuk menyambut Hari Raya Idul Adha ini digelar di Negeri Tulehu dan biasanya selalu dipadati oleh warga masyarakat dari Ambon dan sekitarnya.

Tradisi ini adalah salah satu cara masyarakat merayakan Idul Adha yang dilakukan setelah sholat Idul Adha. Yang membuat unik, sebelum menyembelih hewan kurban yang berupa kambing, kambing tersebut akan digendong oleh pemuka adat dan pemuka agama dan diarak keliling wilayah Negeri Tulehu.

7.      Tradisi Meugang Aceh

Di Aceh, cara masyarakat menyambut Idul Adha disebut sebagai Tradisi Meugang. Tradisi ini berupa acara memasak daging sapi untuk kemudian dinikmati bersama keluarga dan anak-anak yatim piatu. Tradisi ini sudah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu. Selain bisa membagi kebahagiaan saat Hari Raya Idul Adha, Tradisi Meugang Aceh juga bisa meningkatkan rasa solidaritas masyarakat yang diharapkan untuk bisa makin terpupuk saat datang momen istimewa Hari Raya Idul Adha.

By : Neemah_Khoir

IBADAH DI TENGAH PANDEMI COVID-19 PERSPEKTIF ASWAJA

Pandemi Covid-19 adalah realitas global yang menerjang tatanan kehidupan umat manusia dari level internasional, hingga rumah tangga. Kemunculannya menyerang siapa saja yang dapat terjangkiti, tanpa memandang negara, agama, suku, ataupun strata sosial lainnya. Ia menjadi musuh bersama yang harus dilawan dengan cara, salah satunya, memutus mata rantai penyebarannya. Tidak elok jika masih ada yang selalu merespons penanganan Covid- 19 ini dengan “kecurigaan politis”. Tidak layak juga jika ada yang mencoba mengeruk keuntungan dalam situasi pandemi seperti ini.

            Covid-19 ini adalah musibah yang mengglobal. Ia tidak akan memilih sasarannya berdasarkan pertimbangan keagamaan ataupun aliran. Siapapun berpotensi terpapar jika daya tahan tubuhnya tidak kuat, tidak menerapkan pola hidup sehat, ataupun tidak menerapkan physical distancing. Covid 19 bukanlah “tentara Allah SWT” yang tidak akan menargetkan hamba-Nya yang menjalankan kesalehan spiritual normatif. Kesalehan bukan jaminan terhindar dari virus mematikan ini. Allah SWT. Memperingatkan siapapun dalam QS. al-Anfal [8]: 25, “Dan peliharalah dirimu dari siksa yang sekali-kali tidak hanya menimpa secara khusus orang-orang yang zalim di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah SWT sangat keras pembalasan-Nya”.

            Perlu disadari bahwa spirit Islam dalam memutus segala kerusakan sangat tinggi bahkan menjadi tujuan dari pada di turunkannya syariat itu sendiri (maqasyid al-syariah dalam kaedah pengambilan kesimpulan hukum islam,dan ini juga bisa diterapkan dalam mengambil keputusan untuk kemaslahatan bersama,dijelaskan bahwa darul mafasid muqqadamun ala jalbil mashalih, menolakkerusakan lebih diutamakan dari pada mengambil kemanfaatan.oleh karnanya ramadan ditahun ini akan lebih bermakna dan lebih sempurna jika diiringi dengan semangat jihad sosial yang kuat,

            Ada lima prinsip dalam maqashid al-syariah. Ada yang memang seharusnya didahulukan dalam kondisi wabah seperti Covid-19 ini. Para ulama berdiskusi dari kelima hal yang harus kita jaga dalam syariat Islam di antaranya, ada hifdzud din (menjaga agama) dan hifdzun nafs (menjaga jiwa). Sebagian ulama ushul fikih ada yang mengatakan, yang harus didahulukan adalah hifdzu nafs, baru kemudian hifdzu din. Namun jika terjadi benturan antara persoalan menjaga agama dan menjaga diri kehidupan kita, mana yang harus didahulukan? Dalam hal ini, para ulama ada yang memilih hifdzun nafs itu diutamakan. Mereka berargumen, misalkan ketika sedang melaksanakan puasa namun kondisi tubuh kita tidak memungkinkan untuk berpuasa, bisa sakit, khawatir dengan kehamilan, atau kecelakaan karena dalam Alquran dijelaskan, boleh untuk membatalkan puasa pada keadaan tertentu. Artinya, kalau ada pertimbangan medis, kondisi kita tak sanggup berpuasa, atau kalau berpuasa ternyata bisa menimbulkan bahaya untuk kesehatan kita, maka agama memberikan rukhsah/keringanan untuk tidak berpuasa dengan konsekuensi harus mengganti di lain hari.

Islam merupakan agama yang damai, agama yang lembut, menata setiap kehidupan manusia dengan indah,  agama yang selalu memikirkan umatnya dengan adanya rukhsah atau keringanan yang sangat sesuai dilakukan dalam berbagai kondisi dan situasi, bahkan hanya islam, agama yang mengatur kehidupan penganutnya dengan sangat rinci, seperti masalah adab dan tata cara membuang hajat (kencing, buang air besar). Dalam situasi tertentu, islam mampu memberi jalan tengah demi kemaslahatan penganutnya, begitupula dengan aswaja yang posisinya adalah tawasuth, di tengah-tengah antara khauf dan raja’. Di tengah-tengah, antara kita itu merasa takut dengan takdir atau ketentuan Allah, siksa dan azab Allah, tetapi dalam diri kita juga ada raja’ atau harapan akan pertolongan dan rahmat Allah. Begitu juga antara takdir dan tawakal, atau antara takdir dan ikhtiar. Hendaknya juga kita berada di tengah.

Jadi, kita tak boleh lari dari takdir, tetapi kita juga tak boleh berputus asa sehingga enggan ikhtiar. Kita bukan jabbariyah, dan bukan pula Qadariyah. Aswaja itu tengah-tengah. Adalah ketentuan Allah, memang bahwa ada banyak yang wafat karena wabah. Namun, kalau kita takut berlebihan, juga tidak baik. Pada saat yang sama, terlalu percaya diri pun akhirnya tidak bagus sebab justru bisa menjadi ngeyel. Misal, kawan-kawan yang masih ingin menyelenggarkan sholat Jumat, sholat berjamaah, tahlilan, atau bahkan resepsi pernikahan di tengah wabah seperti ini.

Saya kira, ada hikmah untuk lebih dekat kepada Allah. Saya kira, ini pandangan yang sangat jernih. Memang, selalu ada hikmah dari berbagai ketetapan Allah. Yang dulunya kita terlalu sibuk di luar, sekarang ada ke sempatan untuk berkumpul dengan keluarga. Kemudian, kita juga bisa beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Yang paling penting menurut saya, sebetulnya dalam setiap ibadah yang Allah perintahkan kepada kita itu ada ajaran untuk berdiam. Misalnya, tumakninah dalam sholat. Di ibadah haji, ada wukufnya. Bahkan, puasa itu juga berarti menahan diri.

By : Nasrul Ilmi